Program Mahasiswa KKN UNDIP “Dari Hati untuk 1000 Hari : Edukasi Pencegahan Stunting dan RPPA Sebagai Upaya Kecamatan Berdaya” di Desa Lawu, Kabupaten Sukoharjo

Sukoharjo, 10 Agustus 2026 - Upaya pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk kader yang berhadapan langsung dengan masyarakat di tingkat desa. Oleh karena itu, pada hari Senin, 10 Agustus 2026, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler (KKN-R) Tim II Universitas Diponegoro melaksanakan program kerja “Dari Hati untuk 1000 Hari: Edukasi Pencegahan Stunting dan RPPA sebagai Upaya Kecamatan Berdaya” kepada para Ibu Kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Balai Desa Lawu, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo.

Kegiatan berlangsung dalam bentuk edukasi lisan dan diskusi interaktif. Para kader tidak hanya mendapatkan informasi mengenai pencegahan stunting, tetapi juga diajak kembali memahami konsep 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) serta mengenal peran dan alur Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak (RPPA) sebagai bagian dari upaya perlindungan masyarakat.

Sebelum kegiatan dimulai, para kader mengikuti pre-test yang untuk mengetahui pemahaman awal terhadap materi yang akan disampaikan. Setelah itu, mahasiswa menyampaikan materi yang terbagi ke dalam beberapa perspektif, yakni gizi, psikologi, hukum, dan administrasi publik. Ketika seluruh materi telah disampaikan, inti kegiatan diakhiri dengan pengisian post-test. Kedua sesi tersebut turut ditangani oleh Fathu Jundana dan digunakan sebagai instrumen untuk melihat perubahan pemahaman kader setelah mengikuti rangkaian edukasi. 

Pada sesi pemaparan mengenai gizi oleh Salwa Makiya, kader diajak merefleksikan kembali pengetahuan mengenai pencegahan stunting sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Materi mencakup pemenuhan gizi ibu hamil, pencegahan anemia dan Kekurangan Energi Kronis (KEK), pemantauan kehamilan, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI eksklusif, pemberian MPASI, serta pemantauan indikator stunting melalui pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak serta kondisi kesehatan ibu secara berkala di Posyandu. Selain itu, Cahyo Wisanggeni turut berkontribusi dalam pengolahan data prevalensi stunting Desa Lawu sebagai bagian dari penyusunan gambaran permasalahan dan dasar pelaksanaan program. Sementara itu, Marcella Caludi turut memberikan edukasi mengenai pemenuhan gizi seimbang melalui konsep “Isi Piringku” yang dikaitkan dengan diversifikasi olahan produk ikan sebagai salah satu alternatif pangan bergizi dalam upaya pencegahan stunting.

Materi tersebut kemudian dilengkapi dengan perspektif psikologi. Kader diberikan pemahaman oleh Theodora Wilhelmina Raisa Sibarani mengenai relevansi kondisi psikologis ibu terhadap peningkatan resiko stunting dengan menitikberatkan pada pengenalan Depresi Antenatal, Baby Blues, dan Postpartum Disorder semasa 1000 HPK. Pembahasan ini menjadi pengingat bahwa pencegahan stunting sangat dipengaruhi oleh kesehatan psikologis seorang ibu.

Salah satu kader PKK, Ibu Martini, menunjukkan ketertarikannya untuk mendalami materi yang dibahas lebih dalam. “Kalau kayak ibu-ibu yang sulit memenuhi kebutuhan MPASI anak karena gak mau itu berarti bisa jadi karena kondisi mentalnya ya, Mbak?” tanyanya.

Dari sisi hukum, Ammar Akram memperkenalkan dasar hukum yang berkaitan dengan upaya percepatan penurunan stunting serta perlindungan perempuan dan anak. Sementara itu, materi administrasi publik oleh Naily Zulfatil Jannah membahas keterkaitan antara masyarakat dengan layanan pemerintah, termasuk bagaimana kader dapat membantu menghubungkan masyarakat dengan layanan yang tersedia ketika menemukan permasalahan kesehatan maupun perlindungan perempuan dan anak.

Salah satu materi yang turut diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak (RPPA). Para kader mendapatkan gambaran mengenai pengertian umum RPPA, fungsi, serta alur penanganan permasalahan. Alur tersebut diperkenalkan mulai dari ditemukannya atau dilaporkannya suatu permasalahan, identifikasi kebutuhan, koordinasi dengan pihak terkait, pendampingan atau rujukan, hingga tindak lanjut. Pengenalan RPPA menjadi penting karena kader diharapkan dapat lebih peka ketika menemukan kondisi yang membutuhkan perhatian dan mengetahui langkah awal untuk mengarahkan masyarakat kepada pihak yang sesuai.

Tidak berhenti pada kegiatan tatap muka, mahasiswa KKN juga menyediakan buku “Dari Hati untuk 1000 Hari” sebagai media informasi pendamping bagi kader. Buku disusun dalam bentuk informasi yang ringkas, sederhana, dan aplikatif sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengingat ketika kader menjalankan kegiatan Posyandu maupun saat menyampaikan edukasi kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga balita. Dalam penyusunan media panduan tersebut, Sulaibatul Aslamiyah turut menyusun glosarium istilah asing dan medis teknis agar informasi dalam buku lebih mudah dipahami dan digunakan oleh kader Posyandu.

Keberadaan buku diharapkan membuat pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan tidak berhenti pada peserta edukasi. Kader dapat membuka kembali materi ketika membutuhkan informasi tertentu dan menjadikannya sebagai bahan pendukung saat melakukan komunikasi kesehatan kepada sasaran Posyandu. Edukasi ini menempatkan kader sebagai penghubung informasi yang dapat membantu meneruskan pengetahuan mengenai 1000 HPK kepada masyarakat. Peran ini menjadi penting karena kader merupakan salah satu pihak yang berinteraksi secara rutin dengan ibu dan anak melalui kegiatan Posyandu.

Selain edukasi dan buku, program ini juga menghasilkan x-banner sebagai media informasi yang dapat digunakan untuk memperkuat pesan edukasi. Salah satu unsur yang ditonjolkan dalam media tersebut adalah slogan “Perempuan Aman, Anak Nyaman, Kecamatan Berdaya untuk Masa Depan.” Aliya Lutfi Rakhmawati, salah satu mahasiswa yang terlibat dalam penyusunan media edukasi, menjelaskan bahwa isu stunting dalam program ini juga dilihat melalui perspektif Sastra Indonesia, khususnya melalui pemaknaan slogan dan simbol visual berupa gambaran ibu dan anak dengan Latar hangat. Slogan tersebut menggambarkan pentingnya dukungan dan perlindungan bagi perempuan, serta lingkungan yang memungkinkan anak tumbuh dengan kasih sayang, pengasuhan, dan gizi yang cukup. Sementara itu, visual seorang ibu yang sedang merapikan tali celana anak menjadi simbol perhatian dan kasih sayang dalam pengasuhan. Latar yang hangat dan elemen tanaman hijau turut menggambarkan suasana rumah yang nyaman, kehidupan yang sehat, serta harapan terhadap tumbuh kembang anak. Melalui perpaduan kata dan visual tersebut, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan makanan dan gizi, tetapi juga membutuhkan perhatian, pengasuhan, perlindungan, dan kepedulian terhadap tumbuh kembang anak. Lathifa Rasyi juga berkontribusi dalam perancangan, pembuatan, dan visualisasi konten edukatif sebagai media komunikasi pencegahan stunting, sehingga pesan kesehatan dapat disampaikan secara lebih menarik dan mudah dipahami masyarakat.

Program “Dari Hati untuk 1000 Hari” juga menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa KKN terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan ini terutama mendukung SDG 3: Good Health and Well-being melalui peningkatan pengetahuan mengenai kesehatan ibu dan anak serta pencegahan stunting. Selain itu, edukasi pemenuhan gizi turut berkaitan dengan SDG 2: Zero Hunger.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berupaya meninggalkan bukan hanya sebuah kegiatan, tetapi juga pengetahuan dan media yang dapat terus digunakan oleh kader setelah masa KKN berakhir. Dari kader kepada keluarga, dari keluarga kepada anak, upaya menjaga 1000 hari pertama kehidupan diharapkan dapat terus berlanjut sebagai bagian dari membangun masyarakat yang lebih sehat, terlindungi, dan berdaya. 

Penulis/Reporter: Mahasiswa Tim II KKN-R UNDIP 2026 Desa Lawu

Fotografer: Tim PDD KKN-R UNDIP 2026 Desa Lawu

Kontak Media/Humas Kelompok

Instagram: @kkndesa.lawu